
Hembusan angin malam dan suhu udara pegunungan Durensewu yang semakin dingin sama sekali tidak menyurutkan semangat para peserta Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa). Tepat pukul 21.00 WIB, seluruh siswa berseragam pramuka lengkap mulai bergerak meninggalkan tenda masing-masing, berkumpul, dan membentuk sebuah lingkaran besar di lapangan utama Bumi Perkemahan Telogo Sewu. Malam itu adalah malam puncak yang paling dinanti oleh setiap anggota pramuka: upacara api unggun.


Suasana yang awalnya diwarnai bisik-bisik perlahan berubah menjadi hening dan magis. Di tengah kegelapan malam, sepuluh siswa perwakilan dari masing-masing regu melangkah maju dengan tegap ke tengah lapangan. Mereka mengemban tugas mulia untuk memimpin prosesi pembacaan Dasa Darma Pramuka. Prosesi ini berlangsung dengan sangat khidmat dan sarat akan makna simbolis yang mendalam.
Secara bergantian, kesepuluh perwakilan membacakan sepuluh janji moral pramuka dengan suara lantang yang memecah keheningan. Hal yang paling menyentuh dari prosesi ini adalah tradisi berbagi cahaya. Setelah satu darma selesai diucapkan, nyala api dari sebatang lilin dibagikan secara estafet ke lilin perwakilan berikutnya. Cahaya kecil yang perlahan merambat dan menerangi wajah kesepuluh praja muda karana ini seolah menjadi pesan nyata: bahwa kebaikan, ilmu, dan semangat kepramukaan harus senantiasa dijaga dan ditularkan kepada sesama.
Puncak emosi dan kebersamaan malam itu terjadi setelah kesepuluh darma selesai diikrarkan. Diiringi temaram cahaya lilin-lilin tersebut, Kepala Madrasah, Ibu Hasanah, melangkah maju membawa obor utama yang telah menyala berkobar. Dengan langkah mantap, beliau menyulutkan obor tersebut ke tumpukan kayu yang telah disusun menjulang di tengah lapangan.
Seketika, kobaran api unggun menyala terang menjilat udara, mengusir kegelapan dan rasa dingin yang menyelimuti perkemahan. Nyala api yang besar itu langsung disambut dengan tepuk tangan riuh serta nyanyian riang gembira dari seluruh peserta. Kehangatan api unggun pada malam itu tidak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga menyatukan hati, mempererat persaudaraan, dan mengobarkan tekad anak-anak untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mandiri.



